Di sebuah kantor perguruan militer di Korea terdapat salah satu anggota penting dialah Mingyu. Hitungan hari terus berjalan Mingyu akan menjalankan tugasnya sebagai anggota militer, ia ditugaskan di negara Brazil. Satu hari sebelum berangkat ke Brazil Mingyu melakukan persiapan latihan diri, semenjak kejadian naas pada beberapa tahun yang lalu Mingyu lebih dikenal dengan orang yang lebih lemah serta ingatannya cukup melemah.
Hari yang dinantikan pun tiba keberangkatan para militer pun segera diberangkatkan. Sepanjang perjalanan seluruh anggota militer dipenuhi raut wajah yang cukup tegang memikirkan suasana hiru-pikuknya negara Brazil. Setelah menempuh perjalanan panjang mereka tiba di hutan Amazon tempat mereka bertugas selama satu minggu. Tibanya mereka sangat dibuat terkejut oleh keadaan hutan yang sangat mengerikan bagaikan gejolak api yang membara kesana kemari, hari pertama bertugas pun berlangsung dengan baik dan lancar tidak ada kendala sekalipun. Tapi memasuki hari berikutnya berbagai kendala pun ramai-ramai menyerang Mingyu. Banyak sekali para hewan buas Mingyu di hutan Amazon itu terdapat berbagai macam hewan buas seperti ular buaya dan masih banyak lagi.
Mingyu kewalahan menghadapi semuanya tubuh Mingyu dipenuhi luka-luka akibat serangan hewan, Mingyu benar benar tidak menyangka dengan keadaan hutan Amazon itu sendiri bagaikan racun-racun yang bertebaran dimana mana. Kondisi Mingyu semakin melemah ia hampir menyerah pada semuanya.
Memasuki hari terakhir itulah puncak ketegangan dari segalanya. Saat Mingyu menelusuri hutan bagian puncak ia menemukan sebuah jam tangan tua yang sudah berkarat, ia mencoba mengambil jam tersebut, ia baru sadar bahwa terdapat tulisan kuno pada jam itu ia pun mencoba membacanya dan setelah itu pun terjadi hal yang sangat tidak terduga. Perlahan lahan munculah goa yang sangat besar dan gelap pusaran angin yang langsung melahap Mingyu tersedot lah ia masuk ke dalam sehingga tiba pada hutan yang sangat kacau.
Mingyu sangat terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Nallasseo," aku terkejut.
Dengan kondisi hutan yang sangat kacau balau terdapat banyak tokoh-tokoh pahlawan Brazil yang sedang melakukan penjajahan, Mingyu pun tersadar betapa kejamnya kehidupan pada masa penjajahan ia tampak kebingungan. Meratapi keadaan sekitar namun, ia terus mencari cara agar dapat kembali ke dimensi aslinya.
Sembari terus mencari jalan ke luar ia bertemu dengan seorang penyihir ia adalah Herlina.
"Nugu - Seyo, siapa kamu?" tanya Mingyu.
"Aku adalah pemegang kekuasaan pada wilayah ini," jawab Herlina.
"Aku tahu apa yang sedang kamu alami, jika kamu ingin kembali ke dimensi aslimu maka kamu harus melawan dari salah satu anggota penjajah dan berusaha merebut mantra keajaiban, jika kamu berhasil kamu dapat kembali ke dimensimu," ujar Herlina.
"Ba-baiklah, aku akan mencobanya," jawab Mingyu.
Dengan keberanian sisa-sisa, Mingyu mencoba melawan mereka.
"Dyar, jeder jeder!" suara tembakan saling beradu.
Di situ Mingyu menemukan sebuah buku saku kecil yang berisi mantra, ia langsung membacakan mantra itu sebelum kembali di serang habis-habisan. Saat itu juga muncul adanya biru yang sangat terang.
"Jlep," Mingyu langsung terlempar ke cahaya itu kembalilah Mingyu ke hutan Amazon, ternyata saat itu waktu menunjukkan sudah maghrib.
Teman-temannya sudah lama menunggu Mingyu dengan penuh rasa khawatir. Tak lama setelah itu mereka langsung kembali pulang ke Korea dengan sangat lega dan hati yang sangat gembira.
Setelah itu Mingyu belajar agar tidak ceroboh dan lemah lagi.
Penulis, Kelas VIIA MTsN 4 Kulon Progo
ditulis oleh : Anindira Zahra Qalbi Muazara
dipublikasikan pada : 21 Oktober 2026 10:31
dilihat : 6 kali
Ingin tahu lebih banyak? Jangan lewatkan deretan sastra terbaru yang menarik khusus untuk Anda. Jelajahi topik-topik relevan lainnya untuk memperluas wawasan Anda hari ini!
Membentuk generasi literat teknologi yang teguh berakhlak mulia serta siap menaklukkan tantangan global masa depan.
Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta
mtsnjatimulyo.kp@gmail.com
08112653915
mtsnjatimulyo.kp@gmail.com