Suasana di rumah sangat menegangkan bagaikan berisiknya ombak di laut. Berisiknya kedua orang tuaku yang selalu beradu argumen itu menumbuhkan sifat egois yang tak pernah berhenti.
aku Violet Evergraden Margarita, yang tidak pernah merasa nyaman di rumah, rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang justru menjadi hal yang paling ingin kuhindari. Setiap aku merasa kesepian dan tidak didengar aku selalu melakukan hal-hal yang aku senangi salah satunya menonton anime, itu sangat membuatku terhibur. Aku merasa hidup pada bayangan betapa indahnya dan bahagianya hidup di dunia lain.
Pagi itu aku duduk di bangku, disambut dengan coret-coretan di meja. Aku tahu betul siapa yang melakukannya dia bernama Elicia orang yang kerap sekali menggangguku. Mungkin saat itu dia sudah kelewatan.
Aku dituduh mencuri uang yang dipunyai temanku padahal aku sama sekali tidak tahu apa-apa.
"Geledah saja itu tasnya, sering berlagak seolah polos tetapi aslinya suka mencuri!"
Aku mengelak pertanyaannya.
"Aku tidak tahu apa-apa, kalau berani geledah saja tasku," Elicia dan teman-teman yang lain langsung mengeledah tasku.
"Lihat dompetnya ada di sini!" kata temanku yang lain.
"Apa kataku, benar kan, kalau dia itu pencuri!"
Aku sangat terkejut aku tidak bisa berpikir tenang. Pikiranku campur aduk. Tidak sempat membela diri sendiri. Tiba-tiba bel pulang memenuhi ruangan seketika. Aku merebut tas yang masih dibawa teman yang lain dan berlari keluar dari sekolah. Aku bergegas pulang dan langsung ingin mengurung diri di kamar.
Orang tuaku bertengkar kembali seharusnya sepulang sekolah itu disambut dengan pertanyaan yang tak kusangka.
"Mau ikut ibu atau ayah?"
Ada yang runtuh dari duniaku.
"Aku tidak memilih salah satu dari kalian! Jika memang tujuan kalian menikah hanya untuk bercerai kenapa harus ada aku yang dilahirkan di dunia ini!!" Sentakku. Aku membanting pintu dan berlari, tak tahu tujuan bagaikan daun yang melawan derasnya arus laut.
Mataku tertuju pada rumah kosong yang sudah terbengkalai sejak dulu. Tanpa rasa takut aku langsung masuk dan duduk di samping lemari tua. Aku tak bisa menahan ini semua aku menangis, air mataku berlinang deras.
Sudah cukup lama aku menangis. Tiba-tiba lemari tua yang di sampingku mengeluarkan suara gemuruh yang sangat riuh. Aku baru ingin memahami apa yang terjadi tiba-tiba lemari itu mengeluarkan buku.
Buku itu jatuh ke lantai. Dengan rasa penasaran aku membuka bukunya.
SEBUTKAN SATU PERMINTAAN MU MAKA AKAN AKU TURUTI
Di dalam hati aku berkata apa ini benar bukannya ini hanya semacam lelucon? Tapi aku ingin mencobanya.
"Aku ingin pergi ke dunia yang bahagia walaupun hanya sebentar" Seketika buku itu mengeluarkan cahaya berwarna hijau kebiruan, aku terseret ke buku itu.
Begitu aku membuka mata, aku tidak lagi berada di rumah kosong, aku terbangun di sebuah kabin kayu penginapan yang hangat jendelanya terbuka, di luar kelihatan danau yang airnya berkilau ungu kebiruan, dan pohon-pohon yang daunnya berwarna keemasan.
"Masih ngantuk ya, Nak?"
Aku menoleh ibu dan ayah ada di dapur kabin, tapi itu bukan ibu dan ayahku yang sering berantem. Mereka sedang masak bareng sambil tertawa-tawa bahagia. Itu keluarga yang selama ini aku inginkan, keluarga yang selalu berlibur bareng.
"Yok hari ini kita puas-puasin liburan bareng sekeluarga," Kata Mama.
Seharian itu benar-benar menyenangkan. Paginya kami naik perahu kecil. Danau ungu itu airnya bersinar kalau disentuh. Ayah mengajari aku cara membuat airnya membentuk bunga dari cahaya.
Siangnya kami piknik di bawah pohon emas, tida ada hp tidak ada berantem, hanya cerita-cerita konyol. Untuk pertama kalinya, aku bisa merasakan rasanya cerita dengan orang tua.
Di sana, di tepi danau ada Lion. Dia penjaga danau, rambutnya silver. Matanya biru duduk sendirian jaga danau. Aku menghampirinya.
"Aku sudah nunggu kamu dari lama," kata Lion.
"Bagaimana kamu bisa tahu semua tentangku?"
"Rumit untuk menjelaskannya tetapi aku sering mengawasimu, dari sini." jawab Lion.
Dari awal aku masuk ke dunia ini aku juga sering bertemu Lion di dalam mimpi. Kami ngobrol cukup lama, Lion mendengarkan aku cerita, tentang tentang bagaimana aku di dunia sebelumnya.
"Kamu sangat kuat, Violet! Kamu pantas dicintai dengan lembut seperti ini oleh mereka!"
Lion memberiku kalung kristal kecil.
"Ini adalah kasih yang tulus, Violet. Bukan yang membuat kamu takut. Ini adalah kekuatan yang membuat kamu berani pulang!" ujar Lion.
Waktunya hampir habis.
Aku berkata kepada ayah dan ibu tentang semuanya. Kami sempat berpelukan. Lama. Namun kenapa terasa singkat sekali ya? Aku ingin berada di sini lebih lama lagi.
"Ingat aku, ya! Jangan lupakan aku! Mungkin kita berbeda dunia, namun kamu tahu, aku akan terus mengawasimu dari sini! " kata Lion.
Aku menangis, tak pernah aku merasa didukung dengan hebat seperti ini.
***
Elicia mengaku kesalahannya dan meminta maaf kepadaku, begitu pun teman-teman yang lain. Orang tuaku, tidak pernah bertengkar kembali setelah kejadian aku menghilang.
Duniaku sekarang mulai membaik.
Buku abadi itu, aku pajang di rak kamar. Akan aku abadikan buku itu beserta kisah ajaib di dalamnya. Selamanya, terus, abadi.
Penulis, murid kelas VIIA MTsN 4 Kulon Progo
dipublikasikan pada : 14 Oktober 2026 15:20
dilihat : 21 kali
Ingin tahu lebih banyak? Jangan lewatkan deretan sastra terbaru yang menarik khusus untuk Anda. Jelajahi topik-topik relevan lainnya untuk memperluas wawasan Anda hari ini!
Membentuk generasi literat teknologi yang teguh berakhlak mulia serta siap menaklukkan tantangan global masa depan.
Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta
mtsnjatimulyo.kp@gmail.com
08112653915
mtsnjatimulyo.kp@gmail.com